Jakarta – cahayaselatan. Com
Yogi Prastia pemuda asal Pulau beringin, Kab OKU Selatan yang berhasil meraih beasiswa Sarjana Hukum di STHI Jentera Jakarta sejak tahun 2017 hingga 2021 yang lalu. Pemuda yang saat ini berprofesi sebagai Corporate legal Specialist & Data Protection Practioner ini adalah anak ketiga dari tiga bersaudara dengan kondisi perekonomian keluarga menengah kebawah.
Bungsu dari tiga bersaudara ini lulus dengan beasiswa penuh dengan predikat Cumlaude, tapi perjuangannya diakui tidaklah mudah, butuh kerja keras. Perjuangan Yogi untuk berkuliah tidaklah mudah. Ia kerap menerima cibiran dari orang sekitar bahwa ia tidak akan pernah bisa mengenyam Pendidikan tingga karena kondisi keluarga yang tidak berada.
Seperti kisah hidupnya, Yogi mengatakan, “Everyone have a failures, but that is not a barrier to achieving what we aspire to.” Tak perlu harus melalu sempurna, namun segala cita-cita bisa diraih dengan berusaha.
Kisah Perjuangan Si Bungsu di Bumi Serasan Seandanan
Sebelum memutuskan Kuliah di Jakarta, Yogi sempat membidik berbagai macam beasiswa baik pada kampus Negeri maupun swasta. Namun kesempatan-kesempatan tersebut tidak membuahkan hasil sepeti apa yang telah direncanakan.
“Mungkin, sekitar 15 Beasiswa pernah dicoba,” ujar yogi saat ditanya mengenai pengalaman beasiswanya.
Kondisi ekonomi yang tidak memadai memaksa Yogi untuk menurunkan ekspektasi, tidak berharap lebih atas keinginan yang dia inginkan untuk melanjutkan pendidikannya. Di Satu sisi, kondisi sang Ayah pada saat itu sedang sakit sehingga memaksa Yogi untuk tidak memaksakan apa yang dia inginkan.
“Dulu papa sakit parah. Jadi pada saat itu saya tidak bisa memaksakan apa nyang saya inginkan. Uang Pun gak ada, kalaupun ads untuk papa berobat ke Rumah Sakit,” ujar si bungsu dari tiga bersaudara ini.
Tetap Harus Kuliah, Pendidikan Nomor Satu
Pendidikan selalu menjadi nomor satu dalam keluarga Yogi, walaupun almarhum ayah hanya menempuh pendidikan tingkat sekolah Menengah, dan ibu hanya menempuh Pendidikan tingkat Pertama. Oleh karena itu, Yogi bertekad untuk menjadi lebih baik untuk mengangkat drajat keluarga.
Yogi percaya, pendidikan adalah kunci kesuksesan bagi siapapun, tanpa memandang ekonomi. Ia bersyukur memiliki keluarga yang mendukung penuh dirinya untuk meraih cita-cita. Pada akhirnya Yogi mencari tahu mengenai beasiswa kuliah karena ia tidak ingin membebani orang tuanya.
“Awal mulanya saya sempat sudah mendaftar di berbagai perguruan tinggi di Sumatera Selatan, tapi beasiswa yang diberikan tidak full 100%. Suatu saat saya melihat iklan di media sosial tentang Beasiswa Jentera dan tanpa berfikir Panjang saya mencoba mendaftar beasiswa tersebut. Sempat bimbang karena Kampusnya ada di Jakarta dan sempat bimbang karena pasti yang mendaftar adalah orang-orang hebat, tapi ternyata jalan Tuhan sangat baik, saya keterima di STHI Jentera dan dengan beasiswa penuh hingga lulus,” ungkap Yogi.
Banyak Rintangan Menuju Pendidikan
Mendapatkan beasiswa penuh bukan hal yang mudah, terlebih banyak sekali rintangan yang dihadapi Yogi baik sebelum mendapatkan beasiswa maupun setelah mendapatkan beasiswa. Mulai dari pengalaman interview di Kuburan hingga kehilangan sosok ayah.
“Dulu saya wawancara beasiswa di Kuburan, karena pada saat itu jaringan di desa tidak mendukung. Akhirnya saya mencari tempat yang jaringannya bagus untuk melaksanakan wawancara” ujar Yogi
Tidak hanya sampai di sana, rintangan lainnya Yogi harus kehilangan sosok Ayah yang selalu memberikan inspirasi dan dukungan secara penuh. Tepat di semester 3 perkuliahan Yogi harus menerima kenyataan bahwa sang Ayah harus pergi selama-lamanya. “dulu Papa sempet sakit, bolak-balik pergi ke Rumah Sakit” ujarnya.
Disinggung mengenai bagaimana dirinya dapat melewati rintangan tersebut, dia mengungkapkan, dirinya harus tetap hidup dan tetap berdiri di kaki sendiri. Yogi percaya setiap rintangan dan kehilangan akan memunculkan rasa semangat baru, sehingga ia berkomitmen untuk menjadi lebih baik lagi kedepannya.
Semangat Meraih Segudang Prestasi
Keterbatasan ekonomi di keluarga tidak pernah membuat Yogi berkecil hati dan patah semangat. Alhasil, segudang prestasi di dunia akademik dan non-akademik selalu diraihnya. Mulai dari menjadi Runner-Up 1 Bujang OKU Selatan tahun 2017, mewakili Provinsi Sumatera Selatan dalam ajang Pemilihan Putera Puteri Pariwisata Nusantara tingkat nasional, memenangkan berbagai macam perlombaan seperti Karya tulis ilmiah tingkat nasional, lomba debat hukum, penulisan artikel, hingga masuk dalam nominasi Young Lawyers of the Year (In-House category) by Thomson Reuters Singapore dalam acara Asian Legal Business Indonesia Law Award 2022.
Tidak hanya prestasi dalam ranah akademik dan non-akademik. Berbekal kemampuannya dalam berkomunikasi, Yogi kerap memberikan pelatihan kepada anak muda seputar publik speaking, personal branding, hingga pelatihan dan/atau Pendidikan hukum secara gratis.
“saya merasa ilmu yang saya miliki saat ini harus tetap disebarkan kepada orang lain, saya tidak mau orang lain merasakan apa yang saya alami dulu. Saya percaya untuk membantu orang lain itu tidak hanya dari segi ekonomi, tapi dari segi pengembangan kapasitas juga sangat dibutuhkan,” ujarnya.
Ada tujuan tersendiri ketika Yogi melakukan hal-hal tersebut di atas. Salah satunya untuk memotivasi orang lain, khususnya anak-anak muda Indonesia.
Bantu Tumbuh Bersama
Yogi memiliki branding advokasi yaitu #Bantu Tumbuh Bersama, dimana branding tersebut bertujuan untuk memberikan motivasi kepada anak muda untuk tetap semangat mengejar mimpi-mimpinya. Menurutnya, tidak ada yang bisa menghentikan mimpi orang lain yang ada bagaimana dan seberapa besar perjuangan orang tersebut untuk mencapainya.
“Meski anak petani dan anak daerah, teruslah merawat mimpi-mimpi kita”. Maksudnya adalah mimpi saat kita terjaga bukan mimpi yang sering diucapkan tanpa beban saat kita masih kecil. Karena tugas kita saat ini adalah merawat mimpi itu dan berusaha untuk mewujudkannya melalui usaha-usaha kecil yang kita jalani mulai saat ini. Jangan sampai mimpi-mimpi itu tergerus oleh keadaan dan realita. Kita jangan pernah berputus asa hanya karena keterbatasan materi dan finansial apalagi hanya karena kondisi lingkungan.
Kepada teman-teman, Yogi kembali menekankan agar tidak menjadikan keterbatasan sebagai penghalang dalam mencapai cita-cita, namun tetaplah tertuju pada ketinggalan yang dimiliki. “Walaupun kita berasal daerah yang kecil tapi mimpi kita harus lebih besar”. Begitulah kira-kira salah satu pesan yang disampaikannya.

















